|
Renungan
Solidaritas dan Bencana Alam
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi
Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika
Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Matius 25:35-36
Bencana alam adalah sebuah kata yang hampir dikenal oleh seluruh bangsa
Indonesia, kata ini sangat popoler diantara kita karena beberapa tahun
belakangan ini terlalu banyak pristiwa yang mengundang ketakutan dan membuat
kita dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Selain keadaannya cukup
mengejutkan dan menyedihkan, pristiwa ini terjadi secara berkesinambungan.
kehilangan materi , kehilangan keluarga dan kehilangan rasa aman melanda banyak
manusia. Tidak sedikit korban mengalami trauma hingga saat ini, bahkan ada
diantara mereka yang membutuhkan terapi atau pastoral untuk memulihkan rasa
amannya dari kondisi yang menakutkan yang pernah dialaminya. Banyak juga
diantara mereka masih menunggu janji-janji kasih dari pemerintah maupun kelompok
tertentu dan sedang mempertahankan hidup dengan apa yang ada yang sebenarnya
jauh dari cukup, atau memang mereka sudah dijangkau oleh kelompok-kelompok
kepedulian manusia namun apa yang diterima tidaklah mencukupi untuk memulai
sebuah kehidupan yang baru.

Pdt. Dr. Jonriahman Sipayung, MTh (kiri), dan Rev. Dr.
Jerry L. Schmalenberger (kanan)
saat khotbah pada kebaktian di Aula STT Abdi Sabda Medan pada 21 Nopember 2009
Mengalami pristiwa yang menakutkan dan mengejutkan tentulah meninggalkan rasa
yang mendalam; bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai yang pergi
dengan cara menggenaskan, bagaimana rasanya dikejar oleh amukan alam yang gerak
ganasnya tak terkendalikan; bagaimana ngerinya menyaksikan alam dihancurkan dan
disapu rata dalam waktu sekejab; bagaimana takut, sakit dan pedihnya sebagai
korban. Lapar membuat tubuhnya menggigil, haus membuat tubuhnya terasa kering,
dingin tubuh tanpa pakaian. Rasa takut, rasa dingin, rasa sedih, rasa pilu, rasa
haus, rasa lapar, dan rasa sakit menyatu dalam diri. Mereka membutuhkan
manusia-manusia yang mempunyai belarasa.
Yesus adalah tokoh utuma yang sudah memberi teladan kepada manusia untuk
memfungsikan belarasa dalam hidupNya. SolidaritasNya terhadap korban-korban
dimasyarakat adalah agenda utama bagiNya. Sehingga ia menyamakan diriNya dengan
mereka. Bagaimana Yesus solider dengan manusia; Salib adalah simbol penderitaan,
bahkan kematian prematur dan tak adil. Yesus mentransformasikan salib sebagai
simbol penderitaan menjadi simbol solidaritas dengan masyarakat korban.
Kisah penyaliban Yesus menyingkap kehidupan masyarakat korban. Masyarakat korban
menjadi pilihan fundamental hidup Yesus. Ia tidak pernah menempatkan mereka
sebagai obyek tebar pesona di hadapan publik. Ia memanggul salib sampai mati di
bukit Kalvari demi membela kesucian hidup mereka. Ia mengalami kematian prematur
dan tidak adil, seperti masyarakat korban memanggul salib-salib mereka.
Kenangan akan penderitaan Yesus di salib mengundang tiap kita untuk mengubah
jalur serikat tolong menolong kita menjadi gerakan belarasa yang didasari
spiritualitas . Membelarasa masyarakat korban bencana alam adalah panggilan iman
yang harus kita penuhi untuk memberikan yang terbaik bagi Dia yang hadir bersama
yang haus, yang sakit, yang lapar, yang telajang dan yang terpenjara.
Peliharalah Spirit solidaritas dan roh belarasa dalam diri kita.
Pdt. Setia Ulina Tarigan, M.Th, Ph.D
Solidarity and Calamities
For I was an hungred, and ye gave me meat: I was thirsty, and ye gave
me drink: I was a stranger, and ye took me in:
I was naked and you clothed me, I was sick and you visited me, I was in prison
and you came to me.' Matthew 25:35-36
Disaster or calamities is a word that very familiar to Indonesian people. This
word is very popular among us due to many natural disaster or calamities took
place in this recent years. It created fear among us and made us suffer. Despite
it shocked and made us felt sad, these calamities took place continuously. Lost
of belonging, the beloved one and lost of feeling of security happened to many
people. Some became traumatic until now. They Need counseling to heal them from
their insecurity feeling. Some still waiting the promise made by the government
or the donors to support them for their basic need. Some supported by the
charity organization but the donation they received was still not enough.
Experiencing fear and shocking event had a deep impact on the person, the lost
of the beloved one who died in anguish, how it felt being run after by the angry
and under control disaster. How fearful seeing the nature being destroyed and
washed a way just in a minutes, how fearful, pain and sad as the victim. Hunger
made them trembling, thirsty made their body dry, felt cold without cloth. Fear,
cold, sad, thirsty and hungry became one. They need others who had compassion .
Jesus is the main figure who gave us the example about having compassion. His
solidarity toward the victim was His main agenda. He put Himself on the same
boat with them. His cross is the symbol of his sufferings and His premature and
injustice death. Jesus transformed the cross as the symbol of sufferings to the
symbol of solidarity to the victim.
The story of crucifixion revealed the life of the victim. Be with the victim was
His fundamental choice. He never placed Himself on the center stage. He carried
his until His death at Calvary in order to defend their life. He experiencing
premature death like others who experiencing the similar one. Remembering His
suffering in the Cross invites to change our social group based on reciprocity
to became a movement motivated by compassion. Sharing life with the victim of
calamities is a calling to be fulfilled in which we are challenged to share our
best to Him who is present with those who are thirsty, hungry, naked and in
prison.
Let’s takes care the spirit of solidarity and compassion.
Rev. Setia Ulina Tarigan, MTh, Ph.D
|